Musik liturgi inkulturasi adalah kekayaan gereja yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pusat Musik Liturgi (PML) telah konsisten menjaga dan merawat musik liturgi inkulturasi selama 54 tahun, sejak dirintis oleh Romo Karl-Edmund Prier SJ (alm.) dan Bapak Paul Widyawan (alm.). Mereka berdua berkeliling Indonesia, menggali dan meramu musik liturgi berdasarkan akar budaya setempat. Lagu-lagu inkulturasi dalam buku Madah Bakti adalah hasil refleksi bersama dengan penduduk setempat. PML merasa bahwa musik inkulturasi perlu dijaga, dikembangkan, dan dijadikan sebagai musik gereja Nusantara. Musik gaya Nusantara dalam liturgi akan lebih menyatu dengan hati umat dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
PML baru saja melaksanakan konser musik liturgi inkulturasi di Sarawak, Malaysia pada 27 November sampai dengan 1 Desember 2025, dijembatani oleh komunitas migran Katolik di sana. Mereka setia menggunakan buku Madah Bakti sebagai pegangan doa dan nyanyian saat perayaan ekaristi dan ibadat, merasakan kehadiran Tuhan melalui lagu-lagu inkulturasi yang mengobati rasa rindu tanah air. Penduduk asli Sarawak terkagum dengan lagu-lagu dari berbagai gaya Indonesia yang dekat dengan budaya Malaysia, serta mengakui kualitas Madah Bakti. Hal ini mendorong PML untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
PML mengadakan perayaan ekaristi dengan tema inkulturasi dari berbagai daerah di Indonesia, serta konser lagu-lagu nusantara dan folklore. PML juga mengadakan workshop tentang musik liturgi untuk pekerja migran dan penduduk asli Malaysia. Konser ini merupakan pengalaman berharga untuk terus bertumbuh dan berkembang, menjadikan musik liturgi inkulturasi yang terlibat bagi dunia. Semoga Tuhan memberkati.



















