Demi meningkatkan potensi pelayanan bagi umat dan mengenal lebih dekat Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakart, sejumlah 49 orang dari Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang (Komlit KAS) berkunjung ke PML pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Turut mendampingi beberapa Romo Komlit KAS di antaranya Rm. Y. Sunaryadi, Pr, Rm. Hendri Atmoko, Pr, Rm. FX. Sukendar, Pr, Rm Arief Gunawan, Pr (Komlit Kevikepan Jogja Timur), Rm. Rony Surya, Pr, dan Rm. Yoshapat Dani Puspantoro, Pr.
Pemaparan disampaikan Pimpinan PML Elisabet Twitien Sezi Colasina yang menjelaskan legacy yang diberikan almarhum Rm. Karl-Edmund Prier, SJ kepadanya.

“Hingga kini, apa yang diwariskan masih terawat dengan baik. Kami membuat ruang aula yang nyaman dengan memberikan sentuhan seni berupa lukisan sebagai background. Di sini, kami juga mengumpulkan alat musik tinggalan Rm. Prier dan Pak Paul Widyawan menjadi satu dan sebagian di Ruang Gondang lantai tiga. Semua ruang itu disebut laboratorium,” beber Elis.
Ia menjelaskan, disebut laboratorium karena alat-alat musik tersebut sampai sekarang masih dipergunakan dalam setiap ibadat pagi seluruh karyawan sebelum mulai bekerja. Setiap hari dipilih tiga lagu yang dinyanyikan menggunakan iringan organ dan alat musik asli lagu tersebut berasal.
Tentang kursus, lanjut Elis, hingga kini PML masih mengadakannya setiap Senin dan Rabu. Para orang tua masih memercayakan putra-putrinya untuk PML dilatih sebagai calon petugas musik Gereja.
Selain itu, PML baru saja menerbitkan buku Madah Bakti edisi 2025 yang sudah dilengkapi nihil obstat dan Mazmur Alternatif. “Ini tinggalan Rm. Prier SJ yang sudah dilaksanakan,” tegas Elis.
Ia juga menyebut acara yang diselenggarakan PML pada tahun 2025, yakni Kongres Liturgi Inkulturasi (Juli), kunjungan ke Sarawak (akhir November hingga awal Desember), penataran-penataran ke paroki di luar Kota Yogyakarta seperti di Kenalan, Magelang (September), Gereja St. Petrus Kanisius Gunungkidul (November), Surabaya, juga peristiwa dan tempat lainnya.
Rm. Yosaphat Dani Puspantoro Pr memberikan apresiasi kepada karya PML. “Meskipun ditinggal Rm. Prier, hingga kini PML masih tetap solid dan berkembang baik dengan karya- karyanya. Semoga ke depan, Keuskupan Agung Semarang tetap dapat menjalin kerja sama untuk memajukan musik Gereja. Kedatangan ke PML kali ini juga untuk lebih meningkatkan keilmuan agar mantap dalam tugas pelayanan di gereja,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Dengan potensi yang masih ada ini, kami ingin menimba secara langsung dari PML tentang bagaimana menyanyikan lagu Gereja agar lebih baik. Semoga setelah acara ini, nantinya dapat menularkan keilmuan yang didapat untuk oleh-oleh tim Komisi Liturgi, terlebih untuk umat di KAS. Ke depan, tentu kerja sama itu dapat dikembangkan lebih intens.”
Pada kesempatan kali ini, 39 peserta kor inti dari Tim Liturgi KAS diberi kesempatan untuk mencoba secara langsung lagu inkulturasi dengan didampingi tim PML, dipimpin dirigen Patrick Wijnhamer, kolega PML dari Jakarta, Elis sebagai organis, dan diiringi alat musik tradisional oleh tim PML.
Mereka juga diberi kesempatan mencoba beberapa lagu inkulturasi yang terdapat dalam buku Madah Bakti, di antaranya mencoba lagu Mereka Masih Menderita gaya Batak Toba (MB no. 776) dengan iringan organ, taganing, gelas, dan gong.
Mereka juga mencoba lagu Mari Saling Melayani gaya Bali (MB no. 784) dengan iringan organ, gendang bali, pemade, ceng-ceng, kethuk, dan gong.
Di samping itu, seluruh anggota request lagu Tuhan Yesus Kau Hadir Kini gaya Batak Toba (MB no. 690) dengan iringan organ, hasapi, gelas, dan garantung.

Acara diakhiri dengan kunjungan ke museum Rm. Prier yang berada di samping Toko Puskat. Toko Puskat yang berada satu kompleks dengan gedung PML menyediakan buku-buku kebutuhan liturgi dan sarana perlengkapan untuk mendukung peribadatan di gereja.