PUSAT MUSIK LITURGI YOGYAKARTA

Ketika Energi Kerja Harus di-Charge Kembali

Share on:

“Bekerja dalam keseharian perlu survive sehingga butuh energi baru agar tetap enjoy. Maka, energi itu perlu diperbarui agar lebih maksimal,” kata Elisabet Twitien Sezi Colasina, pimpinan Pusat Musik Liturgi (PML), saat acara pembekalan untuk seluruh karyawan oleh Indra Kurniawan, S.E., CTM., ELT pada Jumat, 13 Maret 2026, di Ruang Angklung Gedung PML Yogyakarta.

Indra adalah Peack Performance Coach atau profesional pendamping individu untuk mencapai potensi tertinggi, produktivitas optimal, dan hasil terbaik dalam karier maupun kehidupan pribadi.

Dengan tema “Grow with Personal Intelligence atau Menjadi Diri yang Berdaya, pria asal dari Jakarta ini menggelitik seluruh karyawan PML dan Toko Puskat untuk membuka cakrawala baru dan membantu memberikan sebuah “daya” dalam membangkitkan semangat, berkemampuan berpikir lebih jernih dan optimal, demi kemajuan dalam kerja.

Indra menyatakan, semua orang selalu mempunyai talenta atau potensi, hanya saja mereka sering tidak atau kurang paham untuk mengembangkannya. Kebanyakan merasa sudah berada di zona nyaman sehingga mengembangkan talenta dianggap sudah tidak perlu.

“Saya sudah merasa nyaman bekerja, datang ke kantor setiap pagi dan mengerjakan tugas dan tinggal pulang sore nanti. Kenapa harus repot dengan tugas lain untuk mengembangkan kemampuan? Toh, begini sudah cukup, kenapa harus repot-repot?” lontar Indra mencontohkan.

“Itulah yang sering ada dalam benak kita kebanyakan selama ini apabila bersinggungan dengan untuk menambah kemampuan diri,” lanjut indra.

Padahal, tegas Indra, pengembangan diri itu mutlak, untuk selalu dikembangkan demi kemajuan diri, yang tentu berdampak pada produktivitas yang optimal dan hasil yang lebih meningkat.

“Untuk mendukung semua potensi tadi, memang dibutuhkan sebuah komitmen untuk berubah dan berdampak dalam keseharian dalam bekerja,” tutur Indra.

Empat ciri pribadi maju dengan kecerdasan personal yang baik adalah menghargai diri tanpa merendahkan orang lain, mengenal siapa sesungguhnya dirinya, mampu keluar dari belenggu masa lalu (move on), dan memberikan kontribusi terbaik.

Mengutip Prof. John D. Mayer, psikolog terkemuka dari Universitas New Hampshire, Indra mengingatkan, bila ada potensi macet, perlu memberdayakan pikiran yang jelas, yakni membuktikan potensi, dengan mengembangkan diri, berani mengubur kelemahan, serta membuka hati dengan berdoa.

“Karenakan pada dasarnya sebuah pemikiran, perasaan, perkataan, dan perilaku yang baik akan membentuk kerja yang optimal, maka upaya-upaya itu dapat membantu untuk menambah energi positif, yakni dengan selalu men-charge agar kinerja tidak semakin melemah dan tetap selalu move on,” pungkas Indra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *