Senin, 25 Mei 2026, Pusat Musik Liturgi (PML) menerima kunjungan siswa Seminari Mertoyudan Magelang yang dipimpin oleh Rm. Hieronymus Rony Surya Nugroho, Pr. dan Rm. Victorrianus Palma Adi Hantoro, Pr.
Kunjungan tersebut disambut langsung oleh pimpinan PML, Elisabet Twitien Sezi Colasina, bersama seluruh karyawan. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa seminari untuk belajar dan mendalami musik inkulturasi secara langsung melalui pengalaman praktik bersama di PML.
Dalam sambutannya, Elisabet menjelaskan bahwa PML merupakan lembaga independen Gereja milik Serikat Jesuit yang memiliki perhatian khusus pada pengembangan musik inkulturasi. PML didirikan oleh Karl Edmund Prier bersama Paul Widyawan sebagai wujud refleksi Konsili Vatikan II mengenai inkulturasi dalam Gereja.
“Musik inkulturasi merupakan sari dari musik dan lagu daerah Indonesia yang telah diolah serta disesuaikan dengan kebutuhan liturgi Gereja di Indonesia,” jelasnya

Sebanyak 25 siswa seminari dari berbagai angkatan tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak menyanyikan sejumlah lagu dari buku Madah Bakti, di antaranya “Raja Yang Mahakuasa” dari Batak Toba (741), “Tuhan Kepercayaan Umat” dari Tanimbar (714), serta “Pujilah Namanya” dari Papua Maybrat (765).
Tidak hanya bernyanyi, para siswa juga diperkenankan mencoba berbagai alat musik tradisional yang digunakan dalam lagu-lagu inkulturasi tersebut, seperti gondang sabangunan dan ogung dari Batak, tihar dari Tanimbar, serta tifa dari Papua.
Pada kesempatan itu, siswa juga mencoba memainkan organ secara langsung untuk mengiringi lagu-lagu inkulturasi dengan penggunaan register yang sesuai dengan karakter daerah asal lagu. Elisabet menjelaskan bahwa permainan dilakukan dengan teknik ostinato agar nuansa daerah tetap terasa kuat.
Dalam sesi sharing setelah acara, beberapa siswa mengungkapkan kesan mendalam mereka. Sebastian Leonard Purnama mengaku baru menyadari bahwa lagu-lagu dalam Madah Bakti ternyata sangat menarik untuk dinyanyikan.

Staf PML Yogyakarta mengajari Siswa Seminari bermain alat musik tradisional.
Sementara itu, Samuel Giovani mengungkapkan pengalamannya saat menyanyikan lagu Papua dengan iringan tifa dan alat tiup dari kerang.
“Rasanya seperti berada di daerah asal lagu tersebut,” ujarnya, yang langsung disambut tepuk tangan teman-temannya.
Romo Rony dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada PML karena para seminaris dapat merasakan secara langsung pengalaman menyanyikan lagu inkulturasi sekaligus mencoba alat musik tradisional yang ada di PML.
“Semoga pengalaman ini menumbuhkan rasa cinta serta semangat untuk semakin mengeksplorasi lagu-lagu inkulturasi. Harapannya, pengalaman ini juga memberi sentuhan dalam kehidupan keseharian di seminari,” ungkapnya.