PUSAT MUSIK LITURGI YOGYAKARTA

Merdeka Bersama Kristus, Gelaran Paduan Suara oleh Pusat Musik Liturgi

Share on:

Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta bersama Paduan Suara Vocalista Sonora dan Paduan Suara Anak anak Vocalista Divina bertema Merdeka Bersama Kristus, Sabtu, 30 Mei 2026 yang lalu di Auditorium Puskat Kotabaru Yogyakarta. Pentas ini menghadirkan lagu-lagu Paskah dalam nuansa inkulturasi yang memadukan kekayaan budaya Nusantara dengan semangat liturgi Gereja.

Di tengah arus globalisasi dan era digital lagu-lagu inkulturasi masih mempunyai tempat penting di dalam Gereja Katolik. Melalui lagu-lagu yang berakar pada budaya lokal dan telah disesuaikan untuk kepentingan liturgi, umat diajak untuk mengalami kekayaan iman dalam konteks budaya mereka sendiri.

Namun demikian, lagu inkurturasi masih belum banyak digunakan oleh instutusi gereja di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, PML Yogyakarta yang telah lebih dari 50 tahun berkarya untuk pengembangan music liturgi berupaya memperkenalkan dan mendekatkan lagi kepada umat. PML mengajak kepada umat untuk mendengar, mencoba dan mengalaminya.

Lagu-lagu inkulturasi yang tumbuh dari sari budaya dan sudah disesuaikan untuk kepentingan ibadat. Maka untuk menjangkau Gereja pada umumnya, PML mengadakan pentas sebagai implementasi konkrit bagaimana lagu-lagu  Paskah dalam sentuhan inkulturasi.

Pentas ini sungguh Istimewa karena didukung oleh tiga puluh empat orang yang tergabung dalam PS. Vocalista Sonora serta dimeriahkan tiga puluh tujuh anak-anak PS. Vocalista Divina. Sebagai wujud nyata inkulturasi tersebut mereka juga ber bhineka sebagai cerminan dari berbagai budaya di Indonesia.

Kolaborasi dentingan suara gitar dan suara bilola dari lima siswa besutan PML mengiringi lagu berjudul  Diam di Rumah Tuhan dan Jika Ada Cinta Kasih. Mereka berada dalam kelompok Concerto.

Sementara itu, PS Vocalista Divina asuhan Veronica Eko Pratiwi tampil memukau dengan iringan ansambel yang terdiri atas 16 siswa Conbrio. Lagu Dengarlah, Domba yang Hilang dibawakan dengan iringan suling recorder dan kolintang, sedangkan lagu Bahagia Orang yang Takwa serta Datanglah Tuhan diperkaya dengan alunan angklung dan suling recorder.

Keberagaman budaya Nusantara semakin terasa melalui lagu-lagu inkulturasi yang dibawakan PS Vocalista Sonora dengan dirigen Elisabet Twitien Sezi Colasina sekaligus pimpinan PML. Lagu Kidung Paska dari tradisi Batak Toba diiringi organ, taganing, gong, dan hesek-hesek. Lagu Surga Terbuka dari Cigugur, Jawa Barat, tampil indah dengan iringan kecapi dan suling. Sementara lagu Gong Paska dari Flores dibawakan dengan iringan gendang, gong, dan bas bambu khas Flores.

Pentas ini juga dimeriahkan oleh 29 anggota paduan suara dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kenalan, Magelang, di bawah pimpinan Andreas Supadi. Mereka membawakan sejumlah lagu bertema kebangkitan dalam beragam corak budaya Indonesia.

Lagu Kebangkitan Kita dibawakan dalam gaya Batak Toba dengan iringan organ, taganing, gong, hesek-hesek, dan hasapi. Lagu Kristus Bangkit menghadirkan nuansa Rote Ndao melalui alunan sasando dan gong. Sementara lagu Bumi Bergetar menampilkan warna Flores dengan iringan bonang dan gendang. Penampilan mereka ditutup dengan lagu Bangkit Bersama Kristus bernuansa Maluku yang diiringi alat musik tihar. Aransemen lagu-lagu tersebut merupakan karya Paul Widyawan bersama almarhum Romo Karl-Edmund Prier, SJ, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai tokoh penting pengembangan musik liturgi dan inkulturasi di Indonesia.

Pada sesi lain, pentas juga menghadirkan pianis kelahiran Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia, Patrick J.D. Wijnhamer.

Sebagai sahabat sekaligus kolega PML, ia mengiringi sejumlah karya, antara lain Wanita, Melati di Tapal Batas, Parade Senja, serta lagu Pancasila karya Paul Widyawan dan Romo Karl-Edmund Prier, SJ.

Lebih dari sekadar pertunjukan musik, “Merdeka Bersama Kristus” menjadi perwujudan semangat oikumene dan persatuan di Indonesia. Beragam budaya, alat musik tradisional, serta keterlibatan lintas denominasi gereja berpadu dalam harmoni yang indah, menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan. Auditorium Puskat Yogyakarta menjadi saksi bagaimana musik mampu menjembatani iman, budaya, dan persaudaraan dalam satu semangat, merdeka bersama Kristus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *