PUSAT MUSIK LITURGI YOGYAKARTA

Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025

Share on:

Pusat Musik Liturgi, 9 – 11 Juli 2025

Sejarah menuliskan bahwa kegiatan kongres musik liturgi inkulturasi nasional secara implisit sudah pernah terjadi di tengah terjadinya kongres musik liturgi pada tahun 1979 dan 1980, di mana pada tahun 1980 kongres menghasilkan kesepakatan bersama digunakannya buku nyanyian dan doa umat yang disebut Madah Bakti (MB), yang memuat 60% lagu gaya inkulturasi dari berbagai daerah di Indonesia, dan sampai hari ini MB masih eksist digunakan di gereja di seluruh Indonesia. Hari ini tanggal 9-11 Juli 2025 sejarah secara terang terulang kembali dengan diadakannya kongres nasional musik liturgi inkulturasi yang sesungguhnya digagas oleh Romo Prier (alm.) tiga minggu sebelum beliau wafat  tanggal 21 januari 2024, dalam pembicaraan di meja makan ketika kami PML mengadakan family gathering dalam rangka perayaan natal bersama staf karyawan PML.

Kerinduan beliau untuk mengadakan kongres nasional inkulturasi ini sudah terpendam sejak lama, namun berbagai keadaan membatasi ruang gerak beliau untuk mewujudkannya. Di ujung usia beliau yang sudah senja, beliau mendapatkan insight bahwa kongres ini dapat terlaksana, entah bagaimana caranya. Rasa-rasanya Roh Kudus dan para malaikat pun turut serta dalam rencana ini, sehingga pada bulan Januari 2024, Pusat Musik Liturgi tanpa ragu memulai perjalanan novena mohon petunjuk llahi untuk menjalankan rencana kongres ini.

Mengingat jarak pelaksanaan kongres musik liturgi yang sudah sangat jauh dari tahun 1980 menuju 2025, maka rasanya akan memunculkan suasana shock kalau langsung diadakan kongres, maka PML mambuat langkah berjenjang dengan terlebih dahulu mengadakan konferensi nasional secara webinar pada tanggal 22 Maret 2025, yang diikuti 350 peserta dari berbagai daerah, sebagai pemantik untuk terselenggaranya kongres ini.

Semua peserta yang hadir dalam kongres kali ini tentu berasal dari berbagai latar belakang dan profesi, maka tidak semua sama dan seragam pemikirannya tentang tema kongres “Masihkah Kita Peduli dengan Budaya Sendiri?” dengan sub tema “Inkulturasi dulu, sekarang dan nanti”. Kita datang dengan pemahaman masing-masing yang mungkin akan memunculkan banyak diskusi dan sharing. Perbedaan pandangan bukanlah halangan bagi kita untuk mendapatkan solusi yang sama, asalkan kita dapat berdiskusi dengan kepala dingin dan hati terbuka. Tidak dapat dipungkiri, puluhan tahun gereja katolik Indonesia mengalami dualisme pandangan akibat dari adanya dua buku doa dan nyanyian untuk liturgi. Puluhan tahun situasi ini berjalan begitu saja tanpa ada arahan yang pasti dan banyak membingungkan umat. Yang terjadi adalah banyak kasak-kusuk di sana- sini dan itu tidak sehat.

Maka melalui kongres ini kita semua diajak untuk sadar kembali bahwa perbedaan itu indah, dan membuat kita kaya dalam menjalankan dinamika liturgi, hanya memang perlu ada guidline agar terarah dan tidak jalan masing-masing. Apa yang membedakan lagu liturgi inkulturasi dengan yang bukan inkulturasi? Pertanyaan ini akan membimbing kita pada jawaban yang akan kita temui dalam setiap pemaparan materi yang akan disampaikan oleh para narasumber. Kemudian, apakah inkulturasi yang merupakan gerakan pembaharuan gereja sejak Konsili Vatikan II 1962 masih dirasa relevan atau perlu ada pembaharuan lain? Ruang-ruang diskusi akan sangat terbuka dalam kongres ini. Mari kita semua berdinamika menjalankan kongres dengan hati gembira, dan semoga ada hasil positif untuk kemajuan gereja Indonesia.Tanggal 9 s/d 11 Juli 2025 Pusat Musik Liturgi Jogjakarta telah mengadakan Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi (KNMLI)  yang diikuti peserta dari berbagai paroki dari kota : Jakarta, Bogor, Surabaya, Malang, Samarinda, Medan, NTT, Surakarta dan tentu saja dari Jogja sendiri.

Ini adalah kongres musik liturgi pertama dari PML setelah ditinggal 2 Begawan musiknya, yakni almarhum Rm. Karl Edmund Prier SJ dan bpk. Paul Widiawan menghadap Tuhan.

Pada saat ini PML dipimpin oleh seorang ibu, hasil didikan Romo Prier, yakni ibu Elisabeth Twitien Sezi C dan sekaligus menjadi salah satu nara sumber KNMLI.

Kongres kali ini diharapkan akan membawa nafas segar bagi gereja katolik di Indonesia, karena kongres diselenggarakan oleh perpaduan team PML dan Komlit KWI dibawah kendali Rm.Fransiskus Yance Sengga Pr, sebagai ketua Komlit KWI.

Dua Lembaga gereja yang telah cukup lama mencatat sejarah ‘hubungan dingin’ karena adanya ketidak kompakan dalam memanfaatkan buku nyanyian Madah Bakti dan Puji Syukur, sehingga menimbulkan kerancuan bagi umat dalam menyanyikan lagu-lagu liturgi yang dikumandangkan di gereja-gereja di Indonesia.

( Ini mungkin permasalahan yang dipertanyakan oleh Prof Djohan Salim, saat merumuskan hasil kongres ? ). Topik bahasan dalam KNMLI adalah mengulas hasil lokakarya komposisi musik liturgi inkulturasi yang telah diperjuangkan oleh alamarhum Rm.Prier SJ Bersama team PML dan padus Vocalista Sonora andalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *