PUSAT MUSIK LITURGI YOGYAKARTA

Siap Terjun di Paroki, Siswa KMG PML Kor di Gereja Kumetiran

Share on:

Bertempat di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela, Kumetiran, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Sabtu, 14 Februari 2026, siswa Kursus Musik Gereja (KMG) dari Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta mengadakan pentas uji untuk kenaikan tingkat pada Triwulan II, dari tiga semester yang dijadwalkan, atau tepatnya selama sembilan bulan dari keseluruhan kursus berlangsung.

Ujian tahun ini memang dicoba dengan cara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni untuk mempraktikkan apa yang didapat selama kursus sehingga siswa ikut merasakan secara langsung bentuk pelayanan umat dalam kor. Pentas uji kali ini untuk mengisi kor pada Misa Sabtu sore pukul 18.00 yang dipimpin Rm. Aloisius Dwi Prasetyo, Pr.

Bentuk pengalaman ini tentu sangat berharga bagi siswa, karena pada dasarnya nanti setelah lulus, peserta kursus juga akan terjun langsung di paroki masing-masing. Siswa kursus berjumlah dua puluh satu siswa kursus. Perinciannya, tujuh belas siswa tingkat satu, tiga siswa tingkat dua, dan satu siswa tingkat tiga. Penampilan para siswa kali ini menggunakan lagu-lagu inkulturasi yang berasal dari buku Madah Bakti (MB).

Seksi organis Gereja Kumetiran, Romandus Galih Prasetyo, mengungkapkan, “Sungguh luar biasa, karena Gereja Kumetiran digunakan untuk ajang pentas uji siswa KMG dari PML. Hari Sabtu ini terasa sungguh berbeda dibanding Misa biasanya.”

Ia pun mengomentari kor yang dipenuhi anak muda serta nuansa inkulturasi dengan iringan organ plus, yakni iringan organ ditambah dengan sentuhan musik tradisional, seperti iringan musik Jawa (dengan suling in bes) serta Batak (hesek-hesek, garantung, dan hasapi) guna memberikan nuansa asli musik atau lagu yang dinyanyikan berasal sehingga nuansa lain begitu terasa di Gereja Kumetiran.

“Di Gereja Kumetiran ini sekarang sudah jarang ada kor anak muda. Semoga pelayanan ini dapat memberi motivasi kor anak muda di sini agar lebih gayeng lagi bertugas di gereja,” harap Galih.

Galih juga berharap, bila di lain waktu Gereja Kumetiran digunakan lagi untuk pentas uji PML, lebih banyak lagi menggunakan lagu dan iringan inkulturasi liturgi Gereja Indonesia. “Dengan begitu, lebih banyak lagi lagu liturgi inkulturasi yang diketahui umat,” tegasnya.

Dalam pentas uji siswa KMG kali ini, lagu inkulturasi yang dibawakan di antaranya Madah Pujian (MB 604) gaya Jawa, Tuhan Kasihanilah Kami (MB 182) gaya Manado, Kemuliaan (MB 197) gaya Manado, Mari Menghadap (MB 664) gaya Jawa, Kudus (MB 253) gaya Manado, Bapa Kami (MB 144) gaya Filipina, Anak Domba Allah (MB 274) gaya Manado, Tuhanlah Gembalaku (MB 282) gaya Flores, dan Tinggallah dalam Hati (MB 701) gaya Batak Toba.

                                                                                                                                                 Danan Murdyantoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *