Mengenang Dua Tahun Wafatnya Rm. Karl-Edmund Prier, S.J.
Perayaan Ekaristi peringatan dua tahun Rm. Karl-Edmund Prier, S.J. diselenggarakan pada Rabu, 21 Januari 2026 di ruang aula gedung Pusat Musik Liturgi (PML) Jl. Ahmad Jazuli 2 Yogyakarta.
Rm. F.X. Heryatno Wonowulung, S.J. yang memimpin Perayaan Ekaristi ini mengenang Rm. Prier sebagai sosok yang sungguh menjadi sumber inspirasi iman sekaligus komitmen untuk pengabdian dan pelayanan.

“Rm. Prier itu punya hati kepada siapa pun, setidaknya bagi kami yang tinggal di Pastoran Bener. Saya sendiri dan teman-teman yakin, sekian lama belum pernah melihat Rm. Prier marah. Di pastoran, Rm. Prier selalu datang dengan senyum, keceriaan. Juga saat terbaring di rumah sakit, wajahnya selalu penuh roh Tuhan sendiri,” ungkap Rm. Heryatno dalam homilinya.
Saat menjadi korban penyerangan dalam Misa di Gereja Katolik Roma Santa Lidwina Bedog, Sleman pada 2018, Rm. Prier yakin Tuhan melindungi walau ia tetap harus dibawa ke rumah sakit. “Tetapi, beliau tidak meninggalkan altar saat Ekaristi. Memang, itu iman yang diwariskan kepada kami dan Anda semua,” tegas Rm. Heryatno.
Ia menyebut Rm. Prier terkenal kebaikannya kepada siapa pun, apalagi kepada fakir miskin, antara lain tukang becak, pemulung, dan orang yang tidak punya pekerjaan yang cukup baik.
“Mereka datang pada Rm. Prier dan beliau selalu punya hati. Tapi yang penting senyum tadi. Berbuat baik,” tutur Rm. Heryatno.
Lalu, Rm. Heryatno menunjuk buku Madah Bakti yang merupakan hasil lokakarya Rm. Prier ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. “Rm. Prier juga yakin, lagu itu membawa kebaikan. Kalau pulang dari lokakarya, yang di-sharing-kan adalah kebaikan,” ujar Rm. Heryatno.

Dengan demikian, Rm. Heryatno menyimpulkan, Rm. Prier percaya total kepada Tuhan dan memiliki totalitas dalam pengabdian. Dalam kondisi sakit pun, Rm. Prier tetap memikirkan kebaikan untuk memuliakan Tuhan. “Supaya Tuhan nyata berkarya di tengah-tengah kita semua. Untuk persaudaraan, belas kasih, kemurahan hati, dan untuk kehidupan yang tidak mudah,” pungkas Rm. Heryatno.

Sementara itu, Elisabeth Twitien Sezi Colasinasa selaku pemimpin PML mengatakan, “Tak terasa dua tahun kita ditinggal beliau secara fisik, tapi rasa-rasanya rohani beliau masih tetap ada bersama kita. Setidaknya bagi kami tim PML dan Toko Puskat. Semangat beliau tetap kami rasakan dalam melanjutkan karya beliau.”
Dua tahun ini kami, lanjut Elis, PML dan Toko Puskat mendapat kejutan dalam melanjutkan karya Rm. Prier. Mulai dari terlaksananya penyegaran buku doa dan nyanyian Madah Bakti edisi 2025 yang belum genap satu tahun sudah tercetak 70 ribu eksemplar dan tersebar ke banyak daerah.

“Ini proyek yang sudah lama didambakan Rm. Prier,” sebut Elis sembari menambahkan, “Tahun lalu kami juga berhasil mewujudkan impian Rm. Prier yang sudah panjang dan lama, untuk terselenggaranya konferensi dan kongres nasional musik liturgi dan inkulturasi.”
November 2025, Vocalista Sonora (Vocason) napak tilas perjalanannya untuk tour konser ke negara lain seperti yang dulu pernah dilakukan Rm. Prier bersama anggota Vocason.
“Awal yang kami jajaki ke negara terdekat, di Kuching, Sarawak, Malaysia,” sebut Elis. “Rasa-rasanya dalam kesempatan ini Rm. Prier menyertai kami. Tentu ini terjadi berkat kerja sama banyak pihak, terutama para alumni dan sahabat-sahabat baik.”
Oleh-olehnya, PML dapat bekerja sama dengan Gereja St. Peter Sarawak mengenai musik liturgi. Tim dari Sarawak akan datang belajar di PML.
Elis mengakui, semua itu menandakan warisan Rm. Prier sungguh hidup. Seperti tertulis di foto yang dipajang di depan altar, “Hidup kita hanya mungkin dalam kebersamaan. Meski kita satu per satu pergi, namun sungai mengalir terus dan menghasilkan buah.” Kalimat ini Elis temukan di buku autobiografi Rm. Prier pada halaman terakhir.
“Itulah sebabnya, dalam setiap kegiatan, kami merasakan beliau sungguh hadir dan menyertai kami. Maka, kami tidak takut untuk terus melangkah dan menyebarkan warisan pelayanan beliau, terutama dalam musik inkulturasi Gereja Indonesia,” tekad Elis mantap.