Tanggal 27 dan 28 Januari 2026, Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya menjadi tuan rumah Workshop Liturgi yang menghadirkan Pusat Musik Liturgi ( PML) Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Elisabet Twitien Colasina dan Patrick Johannes David Wijnhamer, serta didukung dan didampingi oleh Bapak Hartono dari Toko Puskat.
Workshop berlangsung selama dua hari dengan tema yang saling melengkapi. Hari pertama 27 Januari, mengangkat tema Lektor dan Pemazmur, sedangkan hari kedua 28 Januari, berfokus pada Dirigen, Organis, dan Kor. Mengingat bahwa topik musik liturgi memerlukan pendekatan yang holistis, hari pertama ditekankan pada pemahaman teori, peran masing masing pelayan musik liturgi, keterkaitan antarperan tersebut, serta dasar dasar ilmu liturgi.
Pada hari kedua, teori yang telah dibahas kemudian dipraktikkan secara konkret, sehingga dapat dihayati bersama oleh seluruh peserta. Materi praktik mencakup pembahasan dan latihan atas Mazmur 859, Bagi Orang Benar dan Mazmur 860 Berbahagia Orang yang Suci Hatinya, serta karya- karya dari buku Madah Bakti (MB) no. 712 Muliakanlah Allah Bapa dengan gaya Banyuwangi Jawa Timur dan MB no. 487 Gendang Syukur dengan gaya Jawa Timur.

Pendampingan bagi Organis (Foto: Dok. PML)
Jumlah peserta workshop tergolong besar dan beragam. Mereka dengan rela menyisihkan waktu dan tenaga setelah seharian bekerja, untuk mengikuti rangkaian workshop, yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 dengan penuh antusias. Sesi workshop sering berlangsung melebihi waktu yang direncanakan, karena begitu banyak hal yang perlu dibahas dalam waktu yang terbatas. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, mulai dari anak usia 9 tahun hingga para senior namun tetap memiliki semangat dan motivasi yang menyala. Dalam kesempatan event ini, Pak Hartono bertugas memamerkan berbagai publikasi dan program PML, antara lain program Kursus Musik Gereja (KMG), Kursus Organ Gereja Jarak Jauh (KOGJJ), serta pameran buku Mazmur Alternatif, Madah Bakti, Kidung Adi, dan beberapa buku lainnya.
Segera, setelah rangkaian workshop selesai Romo Tommy dan para peserta, mengalami secara langsung kekayaan musik liturgi Gereja Indonesia dalam nuansa inkulturasi seperti tertuang dalam buku Madah Bakti. Tim Liturgi atas restu Romo Tommy membeli berbagai buku yang dipamerkan. “Semoga buku -buku ini sungguh dapat memperkaya kehidupan iman umat di Gereja Katedral Surabaya”. paparnya.

Pengarahan oleh Patrick Johannes David Wijnhamer kepada peserta (Foto: Dok. PML)
Hal ini sejalan dengan apa yang tertulis dalam Pedoman Musik Liturgi Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya sebagai berikut. “Penggunaan Buku Nyanyian Umat 31. Gereja di Indonesia dari tahun ke tahun senantiasa berusaha menyediakan buku buku nyanyian bagi umat yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mempermudah kaum beriman dalam memilih nyanyian nyanyian yang akan digunakan dalam Perayaan Ekaristi.
Oleh karena itu, muncul di tengah tengah kita buku buku nyanyian umat, seperti Puji Syukur, Madah Bakti, Yubilate, dan lain lain. Buku buku ini merupakan hasil dari pertemuan para ahli dan komponis dalam lokakarya lokakarya yang diselenggarakan di seluruh tanah air”(Hal. 19).
Berdasarkan teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua buku nyanyian umat memiliki peran masing masing dan saling melengkapi dalam kehidupan liturgi di Keuskupan Surabaya.
Setelah seluruh rangkaian workshop berakhir, Romo Tommy juga mulai menjajaki kemungkinan tindak lanjut untuk bekerja sama dengan PML dalam sesi-sesi lanjutan, dan kolaborasi yang lebih mendalam untuk berbuah bersama di masa mendatang.
Selama berada di Surabaya, tim PML menyempatkan diri untuk mengunjungi dua toko buku dan devosi Katolik. Sayangnya, di kedua toko tersebut buku Madah Bakti belum tersedia untuk dijual. Alasannya, karena buku Madah Bakti pada umumnya tidak digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Surabaya. Besar harapan nanti, setelah event workshop di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya ini, kiranya toko-toko tersebut dapat mempertimbangkan juga melayani para peminat buku Madah Bakti, sehingga dapat digunakan setidaknya di dalam keluarga Katolik dan semakin memperkaya kehidupan iman umat.
Patrick Johannes David Wijnhamer